Malam nang dingin kala itu, menusuk kulit ku yang kering. Ditemani jaket hitam lusuh dengan kondisi kaki yang makin rapuh.
Aku mendapat berbagai ilmu walau dalam keadaan lemah. Sebuah kehidupan Underground yang selama ini hanya diketahui kalangan bawah. Para kelas pekerja sesungguhnya yang lari dari cacian keluarga. Dengan mendengar ilmu yang disampaikan kepadaku, dengan segelas teh yang sudah tidak hangat. Ku mulai tergelak di atas Paving.
30 menit setelah itu, aku dibangunkan. Di eksekusi melihat ilmu neraka. Ah...apa yang diinginkan mereka?. Menyuruhku melintasi jalur aspal itu lagi. Ku berjalan kembali melihat kengerian mata malam yang terus membayangi. Kewaspadaan akan datangnya bocah goblok di hadapan mereka. Ketakutan tersendiri yang menjadi-jadi.
Lonte, Wong Becak, Penjudi, Pemabuk, Dan orang-orang yang sinis akan kebahagiaannya. Melebur menjadi satu mencari hidup indah....bukan-bukan. Tapi sedang menikmati hidup itu indah.
Subuh yang kian mendekat menghancurkan materi dan merenggut semangatnya. Menghadapi Matahari yang tak ampun membakar tanpa tersisa. Wajah ketakutan dan kegelisahan mereka semakin besar ketika meninggalkan tempat itu.Ya....Stasiun Wonokromo, markas para Underground ketika malam. Bermandikan purnama tanpa mulut.
Ternyata tak semenakutkan itu haahai..
BalasHapus