Wajah memerah yang pertama kali bersinar cinta. Tak henti-hentinya ia pandang apa yang disayang. Seakan lupa bahwa ada yang menunggu dirumah. Teruslah dia melanjutkan jalan lemahnya. Menuju ibunda di desa Ponorogo.
Galaknya para supir Jawa Timur yang terus melaju tanpa henti. Menunjukkan bahwa dia telah piawai dengan setir bulatnya. Banyaklah berdoa agar mendapat tempat duduk di bis itu. Karena setiap detik di bis itu adalah kekhawatiran. Sedih pria yang bercampur aduk membayar hutang ke ibunya tak terasa melewati berbagai lampu merah. Persetan para pengamen dan penjual keliling, Tak lepas jua uang si pria akan dihabiskan untuk membahagiakan ibu di rumah. Tercium bau minyak para orang tua diselingi komat-kamit kepada tuhan memohon keberkahan. Sang pria itu yang awalnya duduk sendiri di 2 bangku bis, mendapat teman baru. Seorang wanita yang menuju Caruban dan berangkat dari jombang kota. Keheningan menyelimuti sebentar bangku itu, Hingga akhirnya basa "basi" terdengar. Sebuah latar belakang yang sama, bahwa mereka ingin pulang ke rumah. Sang wanita adalah pekerja di pabrik tekstil yang setiap 6 bulan sekali akan pulang ke kampung halaman. Berbeda dengan si pria yang adalah mahasiswa di Surabaya. Semua berdasarkan waktu libur di hari-hari besar.
Pembicaraan yang lontang lantung itu dikagetkan dengan rem mendadak si supir yang membuat si wanita mendaratkan kepalanya di dada si pria. Setelah kembali ke posisi masing-masing, si wanita mulai menangis dalam sesak. "Kenapa menangis? aku tidak merasa kesakitan" ujar si pria. "Tidak.....tidak..aku menangis karena harus meninggalkan jejak di pikiranmu. Aku tak ingin kau berpikir lebih banyak saat ini". Si pria tertegun, jalan telah memasuki hutan kayu jati yang menandakan mereka telah berada di Saradan. Beberapa penumpang mulai berkurang. Menandakan bis ini akan segera menuju batas. "ambil lah beberapa uangku demi mengobati rasa sakitmu", "aku tak perlu,aku telah memaafkanmu, lebih baik uang itu kau gunakan untuk keperluanmh di rumah". Si wanita dengan perasaan sedikit kecewa, membuat hening keadaan. Hingga akhirnya adalah waktu si perempuan untuk turun. Halte di Caruban yang kelihatan usang dengan berbagai becak di sebelahnya juga diiringi terik matahari yang mulai surut. "Terima kasih telah menemaniku, semoga kau selamat dan berbahagia selalu" ucapan si wanita membuat si pria tersipu malu. Akhirnya si wanita ditelan oleh desir angin gunung Wilis. Sang pria yang awalnya hanya diam berpikir, mulai tertidur. Sampai pada pemberhentian terakhir di terminal Seloaji. Dengan setengah bangun, sang pria bergegas meninggalkan bis itu tanpa memberi senyum kepada si supir. Sang pria pun mencari kendaraan Ojek menuju desa tempat asalnya, desa Krebet. Setelah mendapat Ojek menuju tempat tujuan, si pria bersenandung menyanyikan lagu desa. Lagu lagu itu berubah menjadi sesaknya hati, tak terasa si pria meneteskan air mata. Dia terus bernyanyi dengan bibir gemetaran di sepanjang jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar