Selasa, 19 November 2019

Senyum Retak Yang Terbungkam

 Wanita bertubuh mungil. Dengan kacamata bulat dan wajah bulatnya. Keindahan, paras...ohhh dia sungguh menawan. Memaksa nahkoda untuk melepas jangkar dan berlabuh di hati seorang perempuan yang mempunyai tawa indah. Levi begitu aku menyebut nama bidadari itu.

     Hari di mana aku terpesona dengannya. Menambal kembali retakan senyumku. Aku jatuh cinta dengan caranya menertawakan dunia. Ingin kulepas kepenatanku bersamanya. Menyanyikan lagu fana. Levi kamu alasanku membuat garis-garis itu.

   Levi yang tampak bahagia menyimpan cinta murninya. Gelisah dan kecewanya akan masa lalu, mempunyai kemiripan denganku. Beberapa kali ku menyebut namanya. “Levi...Levi... kamu tak pantas untukku. Seharusnya kamu sudah menemukan kekasihmu hari ini dan itu bukan aku. Kenapa kamu betah menahan sakit hatimu.” 

   Hari berlalu dan ku hampir selesai membuat ukiran wajahmu dan berulang kali aku menulis untukmu. Kamu selalu menolak untuk melihatnya. Sakit?, ya tapi aku percaya diri akan bisa menyeretmu. Levi, kamu tahu kan aku mencintaimu. Namun, apa yang kau minta agar kau bisa jujur. Maafkanlah bila aku tak mau menyeretmu lebih jauh. Karena itu akan membuat kakimu nanti terluka parah dan menambah bekas luka di kakimu.

   Jangan diam saat bersamaku. Aku tidak seaneh yang kamu pikir, Levi. Bukan hidup itu indah. Tapi, indah itu hidup. Kita bisa bersama, kamu bisa menertawakan dan menangis dalam pelukku. Dan aku berjanji untuk lebih hangat dari hari itu.

    Dan pada suatu malam, kita bertemu. Kamu masih diam di sisi itu. Aku pun meneriakkan namamu dengan perasaanku bersamanya. Mataku tertutup oleh rambut panjangku. Setelah itu, aku melihat Levi berlari menghampiriku dengan matanya yang bersinar. Dia memberiku apa yang kuminta. Dia menerimaku apa adanya. Bibir mungil nan basahnya menciumku dengan bergairah dan sangat hangat. Mataku bersinar karenanya. Setelah itu kurangkul dirinya. Kucoba mengeratkan pegangan nakalku. Tapi dia memperingatkanku. Bahagia sekali ketika kami bisa menertawakan hidup. Kuharap kau jua membaca tulisan ini.

       Senyum Retak

 Apa yang kau minta tak selalu ada
Tapi, apa yang kau inginkan
Bisa kau temukan

Kamu hanya takut untuk diam
Hey...tawa palsu
Senyum retak
Hati remuk
Tangis darah

Jangan kau padukan dengan parasmu
Tak pantas untuk bidadari bersayap terang sepertimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar