Kamis, 24 September 2020

Superiotas Membunuhmu : Pengaruh Tinggi Hati Pada Misi Seseorang


Tidak mungkin seorang Homo Saphiens tidak memiliki cita-cita selama hidupnya. Tentu dia memiliki setidaknya satu. Karena cita-cita inilah yang membuatnya tetap bertahan di dunia. Simpelnya, manusia mempunyai tujuan untuk memperjuangkan sisa hidupnya agar bisa merasakan apa yang diidam-idamkan. Apabila satu tujuannya telah tercapai, manusia itu akan membuat tujuan baru, terus berulang, hingga menari dengan malaikat.

Dalam proses penggapaian tujuan, juga dibutuhkan proses penunjangnya. Seperti siswa yang ingin pintar maka ia akan sekolah, penyanyi harus menentukan vokal yang tepat pada lagunya. Waktu yang diperlukan tergantung dari niat menekuni hal tersebut.

Tentunya hal yang diminati sebagai proses menggapai tujuan ini, sudah digeneralisasi dalam satu sub bagian atau kejuruan. Dari kejuruan tersebut terdapat banyak orang yang meminati hal tersebut, walau jalan berpikirnya berbeda.

Sistem ranking dan cepatnya adaptasi menjadi tolak ukur individu untuk segera lulus dari tahap ke tahap selanjutnya. Individu-individu ini nantinya akan bersaing demi mendapat gelar kelulusannya tersebut. Tak jarang persaingan tidak sehat kerap terjadi.

Individu akan merasa ”Wah” jika karyanya dipuji. Masuk ke dalam sikap seseorang dalam menerima pujian. Ada yang mengatakan pujian adalah racun. Yang dimaksud racun tersebut adalah pujian itu bisa menjadi pelecut untuk lebih baik, atau tenggelam dalam gemerlapnya. Semua ini tergantung oleh watak bawaan individu tersebut.

Pujian yang saya maksud bukan berarti kata-kata saja, namun bagaimana individu ini akhirnya menjadi tumpuan dalam mengerjakan komoditi-komoditi khusus. Semakin tergeneralisasinya individu ini dalam menangani suatu hal, maka ia akan semakin menjadi superiotas dan prioritas. Beberapa orang mungkin menyikapi prioritas ini dengan rendah hati, adapun yang menggunakan tinggi hati.

Dengan sikap tinggi hati atau merasa lebih baik dari yang lainnya, maka bisa mengukuhkan dia menjadi pembeda. Hal ini patut dihindari, karena bisa menjadi magnet iri individu lainnya. Ditambah sikap yang sudah terbentuk itu, masih dalam proses pembelajaran. Diperlukan kekompakan antar anggota/ individu, karena manusia adalah mahluk sosial dan serba salah.

Di setiap kelebihan tentu ada kekurangan, dan orang lainlah yang bisa mengerti kekurangan kita terlebih dahulu. Karena, mereka melihat kita dalam sisi lain yang tak pernah dibayangkan sebelumnnya. Bukan berarti setiap hujatan yang masuk adalah tanda orang iri saja, tapi itu adalah saran untuk menjadi lebih baik.

Namun, kekolotan dan superiotas bisa membutakan masukan-masukan tersebut. Akibatnya, individu ini akan merasa manusia setengah dewa, dan jalannya adalah jalan kenabian. Tidak peduli apapun yang masuk, pemikirannya akan menganggap itu adalah sekedar bicara-bicara sampah.

Sialnya, bila para penasihat sudah tidak dihiraukan, maka mereka akan balik tidak menghiraukan si Superiotas. Si Superiotas akan semakin tinggi hatinya, dan sudah merasa benar sendiri. Saat awalnya saja, ia merasa bisa mengerjakan semuanya. Tapi, otak tidak bisa membohongi. Karena pendapat orang lain juga ide baru untuk terus mengembangkan pemikirannya.

Ketika dia sudah pada tahapan ini, sedikit demi sedikit kemalangan akan tiba. Idealis manusia setengah dewanya akan runtuh, karena menemukan orang-orang yang bisa mematahkan hal tersebut. Setelah itu, dia akan mengalami fase jatuh. Semua orang harus mengalami jatuh untuk bangkit kembali. Tapi tanpa bantuan orang lain, maka bangkit akan terasa sulit. Sampailah dia pada tahap kesadaran diri sendiri.

Tidak ada salahnya sadar pada fase akhir, namun akan lebih baik jika ada yang menolongnya bangkit. Karena kita ketahui, dia masih dalam proses belajar dan cita-citanya belum tercapai. Jikalau anggota yang lain ini mau menolong, kalau tidak? Hancurlah dia dikoyak idealisnya sendiri, dan berakhir pada bunuh diri. Maksud saya seperti membunuh jiwa, membunuh karakternya sendiri, dan mengubur segala harapannya.

Maka dari itu, mulailah sadar akan diri sendiri, dan tidak menganggap remeh orang lain. Bila orang seperti ini dilingkungan anda sudah termasuk bebal, biarkan dia jatuh sekeras mungkin. Agar mengetahui rasanya berada di bawah, dan belajar sendiri akan kesadarannya. Saya tidak sejahat itu, menyuruh orang lain untuk jatuh seremuk mungkin, tapi itulah cara yang sudah ditetapkan. Cara ini sudah menjadi kaidah kehidupan, bila ada tinggi maka harus ada bawah, bila susah dituturi maka harus tidak dituturi. Hukum tuhan ini tetap berlaku hingga sekarang. Tapi, bisa dicegah dengan meraba dari awal. (Ahr)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar