Rabu, 18 November 2020

Perkebunan Karet di Indonesia meningkat, kebahagiaan atau keburukan?

 

 

 


 

 


Dilansir dari berita harian kompas 18 November 2020, halaman 11. Yang berjudul ”Komoditas Karet : Permintaan Pasar Dunia Meningkat”. Dapat ditemukan permintaan ekspor karet Indonesia di bulan itu mencapai peningkatan 80 persen dari bulan sebelumnya. Yang awalnya hanya mengekspor 4.826 Ton menjadi 7.628 Ton. Selain terdampaknya pada ekonomi, hal ini juga berdampak pada beberapa faktor lainnya.

 

Kebutuhan ekspor karet yang tinggi tidak menjadikan Indonesia bangga saja. Pasalnya ada aspek lingkungan yang harus diperhatikan. Peningkatan 80 persen dari jumlah ekspor per bulan sebelumnya, menandakan para pekerja kebun karet harus bekerja dua kali lipat. Hal tersebut bisa merembet pada jumlah pemroduksian bahan baku kedepannya. Alam akan dipaksa untuk terus menghasilkan karet setiap bulannya, belum lagi peningkatan ekspor sangat tinggi.

 

Pohon karet membutuhkan waktu 5-6 tahun untuk bisa disadap karetnya. Lamanya proses tersebut tentu membuat kebahagiaan ini terasa singkat. Mungkin ada cara lain dengan membuat lahan baru, namun itu sama saja mendominasi alam. Penguasaan lahan yang fokus pada satu tanaman, akan membuat kekurangan pada bahan-bahan lainnya. Belum lagi biaya-biaya yang dikeluarkan, cukup membuat ketar-ketir.

 

Permintaan yang tinggi ini pasti akan tetap dipertahankan demi perekonomian. Dampaknya upah pada petani meningkat. Seperti petani di Serdang yang mendapat upah 10.300 rupiah dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya 6.000 rupiah per kilogramnya. Tetapi kenaikan harga tersebut akan membuat para petani bersaing ketat untuk mendapatkan banyak klien. Karena, Asia Tenggara, khususnya Indonesia menjadi pengekspor getah karet 90 persen ke seluruh dunia.

 

Akan muncul banyak pengusaha baru untuk mendapat nama melalui produktifitas perkebunan tersebut. Yang awalnya hanya persaingan petani biasa menjadi persaingan pabrik-pabrik. Belum lagi para kartel yang bisa saja ada di dalamnya. Petani kelas bawah akan semakin dilewati oleh nama-nama perusahaan. Hal tersebut juga yang membuat beberapa petani tetap menjadi petani, atau tidak bisa berkembang.

 

Pemerintah mendukung penuh aktivitas ekspor ini dengan cara memudahkan prosesnya. Dikhawatirkan saat Karet tidak bisa disadap  karena waktu panennya, maka Indonesia akan kekurangan bahan baku karet. Dan akhirnya Indonesia melakukan Impor besar-besaran, sama seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang sedang membutuhkan saat ini.

 

Konsep itu disebut 50:50 atau seri. Indonesia tidak akan menyimpan keuntungan jika konsep tersebut masih dilakukan. Salah satu cara terbaik untuk mengambil keuntungan dari bisnis karet ini adalah melakukan kelangkaan pada tumbuhan pohon karet.

 

Seperti membatasi jumlah Ekspor. Disamping kebutuhan dalam negeri, hal ini menanggulangi kelonjakan drastis dari negara-negara pengekspor. Mungkin akan membuat permintaan semakin besar, namun itu memberikan ilmu kepada msyarakat. Yaitu menjaga alam dan menghematnya. Semua harus dilakukan seimbang dan tidak fokus pada materi saja. Kelonjakan ekspor memang meningkatan grafik penjualan. Tapi, yang terpenting adalah menjaga grafik tersebut.

 

Negara-negara Asia Tenggara lainnya tidak akan merebut pasar Indonesia, jika kondisinya tidak kritis. Pada akhirnya Grafik akan stabil, tapi mengalami peningkatan drastis. Kondisi ekonomi Indonesia tidak akan seperti estafer, yang harus terus dioper.

 

Di sisi lain, Penjagaan kestabilan ini bisa membuat Indonesia mendapat citra baik, khususnya di meja kurs. Rupiah semakin menguat dari tahun ke tahunnya. Pada Maret, 2020 Rupiah mendapat angka 16,285.93 pada Dollar. November ini, 1 Dollar sudah menjadi 14,161.75 Rupiah saja. Dalam kurun waktu 8 bulan, rupiah sudah mengalami penguatan 2,000 Rupiah. Keadaan seperti inilah yang harus dijaga.

 

Jika jumlah Ekspor-Impor Karet bisa diatur, maka tidak menutup jika Rupiah akan semakin menguat setiap bulannya. Penguatan tersebut bisa digunakan sebagai daya tarik negara lain pada Indonesia. Indonesia yang juga merupakan negara penghasil sumber daya alam terbesar di dunia, akan membuat banyak negara yang berusaha mendapatkannya. Tapi, mereka harus membayar cukup mahal. Mau tidak mau, atas kebutuhannya, negara-negara luar akan menuruti Indonesia.

 

Strategi tersebut bisa digunakan untuk meningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia. Tentunya tidak hanya pada sektor karet, bisa diterapkan pada perkebunan lain. Seperti kelapa sawit, buah dan sebagainya. Hal tersebut menjadikan kondisi sumber daya alam Indonesia akan tetap terpelihara. Masyarakat akan lebih memilih menjadi petani daripada pekerja kantoran. Identitas Indonesia semakin terjaga, hal inilah yang menentukan kebangkitan ‘macan Asia yang sedang tertidur’ (julukan Indonesia).

 

Berbicara pada sektor pekerjaan, tentunya dibutuhkan tenaga kerja yang ahli untuk semakin meningkatkan perkembangannya. Dampaknya adalah pada mata pelajaran di sekolah hingga Universitas. Akan banyak jurusan Agri yang dibuka dan diminati masyarakat. Banyaknya varian jurusan ini akan membuat masyarakat tidak terpaku pada satu ilmu populer saja. Keberagaman tersebut bisa dijadikan tonggat Indonesia. Jadi Indonesia tidak akan terus menjadi negara ketiga.

 

Bagaimanapun, Alam adalah bahan kombinasi terbaik untuk negara ini. Indonesia tidak perlu menghilangkan identitas nenek moyangnya untuk menjadi negara-negara besar. Tapi, menentukan jalannya sendiri, dan menjadi penantang baru. Alam Indonesia sangat dikenal luas, jika pemanfaatan juga baik, maka akan banyak negara-negara yang iri pada Indonesia. Kemajuan secara merata membuat Indonesia menjadi negara maju dan bisa saja mendominasi dunia. Well see..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar