Jumat, 19 Juni 2020

Kau Akan Jadi Orang Tua


        



            Bunyi Alarm anakku terdengar keras hingga membangunkanku. Jarang sekali aku bangun dengan suara Alarm biasanya aku bisa lebih dulu bangun dari hal itu. Dengan setengah mengantuk, kupikir kopi bisa mencairkan suasana pagi. “nduk, buatkan bapak kopi,” “Haduh pak, aku udah telat kerja. Buat sendiri aja, bahannya ada kok,” jawab anakku. Terpaksalah aku membuat kopi. Setelah siap, aku pun pergi ke teras rumah, ditemani 2 batang rokok dengan segelas kopi hitam. Kulihat anakku dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan diriku, dan kini tinggal aku sendiri di rumah. Kunyalakanlah 1 batang rokok sembari menikmati matahari.

          Sudah 1 tahun, aku hidup sendiri semacam ini. Sebelumnya, ada istriku yang masih membuatkan kopi kepadaku. Dia adalah istri yang cerewet. Setiap kelakuanku yang tidak membuat hatinya senang, maka dia akan marah besar. Namun, aku hanya bisa mendengarkannya. Karena, aku mengerti rasa sakitnya menjadi ibu dari 4 anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Tapi, ia sudah kembali ‘pulang’, karena penyakit stroke yang ia alami selama 2 tahun yang lalu. Aku masih ingat tubuhnya menjadi kurus, dan tak lagi mampu mengomeli diriku.

      Sebelumnya istriku dirawat penuh oleh anak ketigaku. Perempuan yang kini masih tinggal serumah dengan bapaknya. Akhir-akhir ini dia dilanda masalah rumah tangga. Dia bertengkar dengan suaminya, perihal ekonomi. Dia berkarakter keras dan kepala batu, hingga membuat keadaan di rumah menjadi tegang. Padahal dia sudah mempunyai 2 anak yang masih kecil. Aku khawatir dia bercerai dan menikah lagi. Apakah sudah hilang rasa kepada anak-anaknya?, ah memang dia adalah anakku yang paling bodoh.
     
          Tak hanya aku yang berpikir anak ketigaku yang paling bodoh. Kakak tertuanya juga mengatakan hal yang sama, bahkan tepat di mukanya. Anak pertamaku tidak jauh dari sifat ibunya, cerewet dan mudah marah. Kini dia sudah menjalani separuh hidupku di masa lalu. Mempunyai 2 anak, dan anak tertuanya bahkan sudah kuliah. Aku membayangkan beratnya dia hidup bersama suaminya selama itu. Belasan tahun yang lalu, aku masih memeluknya kala dia menangis saat awal berumah tangga. Suaminya sangat keras kepala dan tega. Bekali-kali anak pertamaku datang kepada ibunya dengan darah dan air mata. Tapi, dia tidak sebodoh anak ketigaku. Dia masih kuat menjalani hidup, hingga bisa menyekolahkan anaknya ke universitas, suatu hal yang sangat bagus. Mengingat aku tidak lulus SD.
     
            Berbeda lagi dengan anak keduaku. yang sekarang telah menjalani hidup mapan di seberang pulau. Anakku yang satu ini lebih kaya dari saudara-saudaranya. Aku ingat ketika dia memutuskan untuk pergi merantau. Kala itu, dia hidup bersama istrinya di kota seberang. Beberapa kali dia harus berhenti pekerjaan, karena mengalami masa sulit. Istrinya selalu mengejeknya perihal tidak memberi kehidupan pada keluarganya. Dia akhirnya pulang ke rumah ini, dan berputus asa dihadapan ibunya, bahwa dia bukanlah bapak yang baik. “Nak, ini sudah tanggung jawabmu. Kamu sudah bukan lagi menjadi anak, melainkan ayah. Kamu sudah berada di level bapakmu. Maka lakukanlah apa yang sudah menjadi tugasmu,” wejangan istriku pada anakku ini masih kuingat hingga sekarang. Dia pulang ke rumah istrinya dengan berkaca-kaca mendengar nasihat ibunya. Pada akhirnya dia sudah beruntung hidup di negeri orang.
       
          Lain dengan anak bungsu kami, dia tidak seberuntung kakak laki-lakinya. Dia lebih dulu meninggalkan ibunya pada usia yang masih muda. Dia mengalami kecelakaan yang membuatnya kehabisan darah dalam akhir hidupnya. Aku dulu turut mengantarkannya ke rumah sakit. Dia saat itu masih bisa berbicara, “Pak, aku dimana?, Ibu dimana?,” Ucapnya dengan lirih. Aku tak tega mengingatnya lagi. Dia anak terkecil kami, satu-satunya penghibur di masa tua kami. Lebih dulu meninggalkan bapaknya yang sudah tua ini.
      
           Tidak terasa satu batang rokokku hampir habis. Ingin kunyalakan satunya, namun aku teringat pada pekerjaan. Menjadi tukang parkir dirasa tidak membuat nyawaku begitu terancam. Kini aku harus bekerja untuk diriku sendiri, karena aku sudah tidak punya tanggungan menjadi orang tua lagi. Semua anakku yang tersisa telah menjadi orang tua, dan aku harus melepaskannya. Kusimpan rokok itu dalam sakuku, dan bersiap pergi berkeja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar