Selasa, 31 Desember 2019

Sebelum Ganti Tahun, Cari Uang Dulu

        
       Adakah yang tahu tentang hiburan keliling 'kemidi bedes' atau atraksi monyet.Entah kenapa di daerah saya menyebutnya seperti itu. 'Kemidi bedes' adalah bentuk hiburan yang berisi atraksi hewan monyet melakukan hal-hal lucu dan di pawangi juga ditabuh musik oleh manusia.

    Hiburan ini saya temui lagi pada hari ke-365 di tahun 2019. Terdiri dari 3 personil, penabuh, pawang monyet, dan si monyet sendiri. Alangkah kagetnya saya ketika melihat ada beberapa atraksi baru yang dilakukan si monyet. Waktu itu si pawang juga tak kenal hujan, hingga menorobos derasnya air hujan.

  Sungguh terhibur kala itu saya melihat atraksinya, tetapi juga sangat miris dengan nasib mereka. Demi sesuap nasi saja harus siap bermandi hujan, dan si monyet harus menerima siksaan agar bisa menguasai teknik barunya. 

     Atraksi 'kemidi bedes' ini menyimpan luka yang mendalam bagi si monyet, dia harus menerima siksaan setiap harinya sebelum menuju waktu atraksi. Beragam pemerkosaan dan perebutan Hak Asasi Hewan (HAH) dilakukan, dan si monyet tidak sendirian dalam waktu penyiksaannya. Beberapa monyet lain juga ikut disiksa, dan ada yang harus meregang nyawa karena hak sebagai monyetnya direnggut.

      Mulai dari merantai monyet untuk dijemur di terik matahari, pembatasan makan si monyet, pelatihan kebiasaan yang diluar aktivitas 'permonyetan'. Tapi, bila si monyet berhasil melewati rintangan itu maka si monyet dapat makan dan hidup lebih bebas, karena dia akan mendapat jatah makan dan tidur yang cukup.

     Saya mencoba bertanya pada si pawang dan si penabuh. Mereka melakukan pekerjaan ini ketika mereka sedang libur dari kerja di pabriknya. Mereka berasumsi mendapat laba tiga ratus ribu rupiah perharinya. uang ini dibagi 1/3 untuk setiap personil. Dan si pawang menambahkan masih banyak kerja sampingan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

      Si pawang mendapatkan monyet-monyet Romusha ini dari pasar hewan yang menjual 1 ekor monyetnya lima puluh ribu rupiah, dan dia berujar memberi makan per monyet yang belum lulus, 1 pisang per hari. "kalau yang sudah bisa atraksi, 2 buah pisang sama sisa makanan kami" tambah si pawang.

     Begitu susahnya mencari uang, sehingga mengandalkan energi monyet yang kecil. Memang bukanlah kesalahan para personil 'kemidi bedes', tetapi ini adalah bentuk koneksi antar mahluk tuhan untuk saling membantu perekonomian masing-masing.

Kamis, 19 Desember 2019

Menunggu Dengan Sebuah Cara


     Malas adalah salah satu sifat manusia yang selalu disalahkan. Padahal sifat ini memang harus ada dan tak pernah hilang, karena sifat ini diberikan oleh tuhan sebagai cara berpikir. Dengan menggunakan sifat malas ini di kehidupan sehari-hari, maka akan membuat resistensi dan kesadaran agar bisa mengatasinya.
    Banyak tuntutan dari luar individu yang menyuruh agar tidak bermalas-malasan. Padahal, orang-orang yang bersifat eksternal ini juga pernah menggunakan kemalasannya. Sungguh tidak adil bila hanya dari pihak luar yang boleh menyatakan kemalasan seseorang. Seperti kesedihan dan kebahagiaan akan menikmati kemalasan dibungkam. 
    Memang kita adalah mahluk tuhan yang rata-rata mempunyai kemiripan masalah. Walaupun begitu, sebenarnya kita tidak boleh menggunakan prinsip itu. Karena perbedaan otu nyata, janganlah berpikir kita mempunyai kesamaan. Tidak setiap individu bisa 1 frekuensi dengan individu lain. bila kita masih ngeyel akan konsep "kita ini sama", maka kita tak akan bisa mengerti karakter orang lain dan karakter diri sendiri.
    Apa gunanya ada kata "debat" dan "diskusi" apabila memang ada suatu pihak otoriter yang memaksa 1 frekuensi, tidak ada bedanya toh dengan konsep "komunis".
     Konsep komunis adalah konsep yang menuntut persamaan. Padahal, konsep ini bisa dijalankan apabila ada seorang pemimpin yang menuntut hal tersebut dan pada ujungnya juga komunis ini juga mengusung sifat penindasan pada pihak yang direndahkan atau orang bawahan.
     Ya memang inilah sifat manusia. Kemalasan benar-benar dimaklumi, tetapi orang akan dikatakan paling malas apabila dia berada di kasta terendah kehidupan. Apakah tuhan menciptakan mahluk yang 'menuhankan' diri sendiri?. Tanyakan pada penjual-penjual makanan di sekitar rumah mu.

    
    

Selasa, 17 Desember 2019

menelisik kembali rutinitas baru di usia remaja


  

   Di saat masih menjadi anak-anak, orang tua selalu memberi porsi tersendiri dalam aktivitas kita. Alhasil banyak hal yang tidak bisa ditangkap serius dan terjadi pengintian memori, anehnya memori saat masa anak-anak dapat ditangkap secara penuh. contohnya seperti mengingat suatu kejadian epik yang bisa diingat mulai dari awal. 

     Memang cara Pengekangan dan normalisasi kejiwaan anak anak menjadi hal serius yang diterapkan di setiap generasinya, dan ini juga termasuk pendisiplinan sedari dini. 
Pendisiplinan ini juga menjadi metode orang tua untuk tak terlalu khawatir sepanjang waktu mengawasi prilaku anak. Sering kali orang tua akan marah besar ketika si anak melampaui batas. Cara pendisplinan ini berlangsung terus dan mengendur setiap tahun berikutnya.

   Hingga akhirnya si anak sampai pada fase awal remaja yang membuat rasa ingin tahu sangat besar mendorong untuk melakukan ekspolarsi hidup, mencari jati diri melalui berbagai hal aktif dan pasif.

      Masa berontak benar membuat kita mengeksplor kesenangan, contohnya anak laki-laki akan bangga bila ia bisa merokok dengan benar dan anak perempuan bisa berfantasi mencari 'pangeran'-nya.

     Di saat inilah pembentukan karakter lebih dibutuhkan. Karena tingkat senang-senang anak ini berubah menjadi tak terbatas, dan nanti bisa menjerumuskan pada aktivitas baru yang bisa memperburuk psikis si anak di kemudian hari.

   Pengaruh orang tua baru yang menyenangkan menjadi landasan anak untuk menentukan jalannya. Bila orang tua baru ini memberi contoh tindakan yang positif saja mungkin akan membantu si anak mengerti tingkatan senangnya, bagaimana kalau yang diberi adalah tindakan negatif?.

  Pada akhirnya kita mulai sadar bahwa sudah terlalu jauh dan terbelenggu dalam rutinitas baru. Dan menjadikan candu. 

Yang pada akhirnya membuat anak sadar bahwa mereka sudah bersalah kepada orang tua. Menyalahkan rutinitas baru, tetapi masih berada di posisi itu. 

     Sudah menjadi proses yang biasa dan diamini semua orang yang melewatinya, namun tugas sebenarnya adalah mengurangi kebiasaan. 
      Jadi sudahkah pembaca paham bila melakukan hal yang menyedihkan bahkan dirasa merugikan diri sendiri ataupun orang lain?.

Minggu, 15 Desember 2019

Perempatan Jalan di Roma

 
Apa yang kau kejar sekarang?
Sekarang menggunakan celana usang
Yang terus muncul di instagram
selama 2 tahun kebelakang

Menenggak peradaban
Membuang kawan lama
Dalam toilet 
Mencuri eksistensi mereka

Lantas apa yang di-ingin?
Tertawa dalam dingin (sudah)
Menangis di mimpi (sudah)
apa lagi?

yakinkah itu jalurmu?
jalur hebat yang sebenarnya tak pantas kau belenggu?
Maukah kau mendampinginya?
Perempuan sunyi bermalam di tepi sudut jalan kota

Sekali lagi kau masih butuh?
Meninggalkan bola berlumpur dalam sarang berudu
Memelihara ikan dalam sangkar
Membunuh secara perlahan

sia-sialah kehidupan
Dan kau masih tak menyadarinya
Menjalin asmara
Diktator bersemayam dijiwa

Mencuri romantikanya
Bosan
Kau tak pernah menunggu
Hampa
Mohon sapalah mereka




Selasa, 10 Desember 2019

Menangis untuk apa?


      Wajah memerah yang pertama kali bersinar cinta. Tak henti-hentinya ia pandang apa yang disayang. Seakan lupa bahwa ada yang menunggu dirumah. Teruslah dia melanjutkan jalan lemahnya. Menuju ibunda di desa Ponorogo.

      Galaknya para supir Jawa Timur yang terus melaju tanpa henti. Menunjukkan bahwa dia telah piawai dengan setir bulatnya. Banyaklah berdoa agar mendapat tempat duduk di bis itu. Karena setiap detik di bis itu adalah kekhawatiran. Sedih pria yang bercampur aduk membayar hutang ke ibunya tak terasa melewati berbagai lampu merah. Persetan para pengamen dan penjual keliling, Tak lepas jua uang si pria akan dihabiskan untuk membahagiakan ibu di rumah. Tercium bau minyak para orang tua diselingi komat-kamit kepada tuhan memohon keberkahan. Sang pria itu yang awalnya duduk sendiri di 2 bangku bis, mendapat teman baru. Seorang wanita yang menuju Caruban dan berangkat dari jombang kota. Keheningan menyelimuti sebentar bangku itu, Hingga akhirnya basa "basi" terdengar. Sebuah latar belakang yang sama, bahwa mereka ingin pulang ke rumah. Sang wanita adalah pekerja di pabrik tekstil yang setiap 6 bulan sekali akan pulang ke kampung halaman. Berbeda dengan si pria yang adalah mahasiswa di Surabaya. Semua berdasarkan waktu libur di hari-hari besar. 

     Pembicaraan yang lontang lantung itu dikagetkan dengan rem mendadak si supir yang membuat si wanita mendaratkan kepalanya di dada si pria. Setelah kembali ke posisi masing-masing, si wanita mulai menangis dalam sesak. "Kenapa menangis? aku tidak merasa kesakitan" ujar si pria. "Tidak.....tidak..aku menangis karena harus meninggalkan jejak di pikiranmu. Aku tak ingin kau berpikir lebih banyak saat ini". Si pria tertegun, jalan telah memasuki hutan kayu jati yang menandakan mereka telah berada di Saradan. Beberapa penumpang mulai berkurang. Menandakan bis ini akan segera menuju batas. "ambil lah beberapa uangku demi mengobati rasa sakitmu", "aku tak perlu,aku telah memaafkanmu, lebih baik uang itu kau gunakan untuk keperluanmh di rumah". Si wanita dengan perasaan sedikit kecewa, membuat hening keadaan. Hingga akhirnya adalah waktu si perempuan untuk turun. Halte di Caruban yang kelihatan usang dengan berbagai becak di sebelahnya juga diiringi terik matahari yang mulai surut. "Terima kasih telah menemaniku, semoga kau selamat dan berbahagia selalu" ucapan si wanita membuat si pria tersipu malu. Akhirnya si wanita ditelan oleh desir angin gunung Wilis. Sang pria yang awalnya hanya diam berpikir, mulai tertidur. Sampai pada pemberhentian terakhir di terminal Seloaji. Dengan setengah bangun, sang pria bergegas meninggalkan bis itu tanpa memberi senyum kepada si supir. Sang pria pun mencari kendaraan Ojek menuju desa tempat asalnya, desa Krebet. Setelah mendapat Ojek menuju tempat tujuan, si pria bersenandung menyanyikan lagu desa. Lagu lagu itu berubah menjadi sesaknya hati, tak terasa si pria meneteskan air mata. Dia terus bernyanyi dengan bibir gemetaran di sepanjang jalan.