Rabu, 06 Januari 2021

Bagaimana menghindari Toxic Relationship di Adu Nasib

 


Mungkin hal ini sudah lumrah dijumpai di manapun dalam sebuah konversasi empat mata hingga di sebuah pengajian. Suatu aktivitas yang juga penting dan muncul dari spontanitas ini akrab ditemukan baik secara dunia nyata hingga dunia maya. Adu nasib tidak jauh berbeda dengan menceritakan pengalaman diri sendiri, semua orang juga membutuhkan ceritanya didengar oleh individu lain.

 

Hal yang biasa ini menjadi sebuah meme atau guyonan pada tahun 2020 silam di dunia internet. Dimulai dengan keresahan pengadu nasib pertama yang tidak terima dengan kata “lah elu masih mending, gua..,” yang dilontarkan oleh para komenter hingga bermunculan sebagai satir baru yang sedang berkembang di dunia maya. Banyak postingan yang memenuhi beranda sosial media tentang kejadian tersebut, cukup menganggu karena terlalu sering ditemui.

 

Adu nasib sendiri bukanlah problema yang besar namun tidak selalu sepele, banyak kasus serupa yang bisa ditemui dalam keseharian dan tidak ada yang menanggapi hal ini secara kasar, walupun ada emosional di dalamnya. Seperti halnya, ibu-ibu yang berkumpul pada sebuah toko kelontong membandingkan pekerjaan anak – anaknya. “Jeng, anak ku suka banget keluar malem, buat kabar miring tentang keluarga saja, bisa-bisa dikira ada apa-apa nanti anak ku,” “lah anak saya malah gak mau keluar rumah, kerjaanya di depan laptop aja bu, saya kan khawatir kalo dia jadi kurang pergaulan sama masyarakat nantinya,” seperti itulah adu nasib yang sering digunakan oleh ibu-ibu di Indonesia. Semua mengalir seperti biasa.

 

Tapi, adu nasib ini bisa memicu emosional apabila dibumbuhi dengan kesombongan.  Sifat natural itu menjadi hal menyenangkan dalam sebuah percakapan, tapi tidak menutup kemungkinan jika terjadi sebuah bentrokan pada akhir pembicaraan. Yang awalnya hanya ingin menceritakan keseharian dan tidak diterima oleh sebagian pihak karena dianggap sepele dan berwujud keresahan, merubah momen mengasyikkan tersebut menjadi perdebatan. “Susah banget sih soal ini,” “Apaan anak SD juga bisa itu, ini nih yang bener-bener susah,” sikap seperti inilah yang akhirnya menjadi Meme baru di Internet 2020.

 

Adu nasib adalah pembunuh perbincangan yang sering digunakan. Tujuannya untuk mengintimidasi lawan bicara. Walaupun lawan bicara bisa menerimanya, tetap saja hal itu adalah pengakhir sebuah pembicaraan. Ada beberapa cara agar adu nasib ini tidak berakhir pada kesombongan dan kembali kepada esensinya, yaitu mengungkapkan cerita tersendiri untuk orang lain.

 

Pada orang yang akan mengadu nasib, lebih baik tidak menjaga perkataan dan tidak menambahi kesombongan. Berusaha untuk menjadi pendengar atau menjadi lawan bicara adalah cara menghilangkan ego diri sendiri. Sedikit memuji cerita orang lain juga harus ditambahi. Seperti halnya “Wah keren ya, Kalau aku sih..gini gitu.” Bersikap tidak sok tahu juga penting dan mengatakan “kita sama” juga hal yang harus dihindari, karena sikap tersebut sama saja tidak menghargai lawan bicara, karena mereka akan beranggapan bahwa tidak ada yang spesial atau menarik dari kisahnya disebabkan pernah dialami orang lain. Cara ini akan membuat elegan adu nasib anda agar diterima. Dilanjutkan dengan meminta pendapatnya tentang kedua cerita dari orang berbeda tadi. Sedikit diskusi akan menambah jatah waktu pembicaraan agar tidak cepat selesai.

 

Begitupun juga memberi pertanyaan mendalam. Pertanyaan mendalam dapat membantu lawan bicara agar lebih berterus terang. Hal tersebut juga memberi stimulus, karena lawan bicara akan merasa diperhatikan dan apa yang dialaminya menarik bagi penerima. Namun, harus tetap menerima apa yang keluar dari ucapannya, bai itu saran, kritik, ataupun cerita tambahan. Sikap legowo ini juga memberi sinyal jika anda tidak mengecewakan apabila menjadi tempat curhatnya.

 

Pada akhirnya adu nasib dan saling bercerita mempunyai esensi yang sama, hanya saja ego kerap timbul terbawa.Namanya juga manusia, apalagi itu sikap spontan. Tapi mulai belajar untuk menjaga sikap dan perkataan juga bukan hal buruk. Jikalalu cara di atas dilakukan, maka akan berhasil menambah daya tarik lawan bicaranya, malahan untuk mereka yang sedang berstatus gebetan akan memberi boosting menuju hubungan yang serius. Tentu saja tidak mau kan apabila hubungan kita dengan orang lain memburuk karena membesarkan ego masing-masing, apalagidia orang tersayang. Mulai merubah semuai tindakan salah kaprah ini, buat menjadi hal yang menguntungan bagi semua pihak.

 

Syahdan, manusia tidak bisa lepas dari keresahan-keresahan. Keresahan ini juga harus diungkapkan agar tidak membebani diri sendiri dan orang lain, seperti dengan cara adu nasib. Dalam kehidupan memang butuh adu nasib, atau refrensi dari orang lain. Karena perbedaan diciptakan untuk menemukan kesamaan. Semua orang terlahir dengan jalan hidup yang berbeda, dan mempunyai masalahterberatnya sendiri. Tidak boleh merasa ‘paling’ karena belum tentu anda bisa menjadi dia, dan dia menjadi anda. Hakikatnya pun sama sama manusia, harus butuh saling pengertian atau arabnya Hablum Minnanas. Lebih afdol membawa adu nasib tersebut menjadi menyenangkan seperti kiat di atas adalah cara agar semua tidak carut marut dan mengurangi sikap cemberut, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Cukup terima, dan mengerti kondisi orang lain itu sudah bagus. Jangan pernah merasa sok, karena sama saja akan membuat kesenjangan pada orang lain. Tetap membumi Lads. (Ahr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar