Rabu, 13 Januari 2021

Trauma di Neverland Ranch Area

 


 

Pada akhir tahun 2020 rumah Michael Jackson, Neverland Ranch terjual seharga 301 Milliar Rupiah dari harga awalnya yang berkisar 1,4 Trilliun Rupiah. Untuk sebuah rumah orang paling berpengaruh di Amerika Serikat bahkan dunia, hal ini sangat tidak masuk akal. Mengingat banyaknya orang gila abad ini yang rela mengeluarkan uang untuk sebuah barang yang tidak terlalu sering digunakan atau hanya sekadar koleksi. Neverland Ranch terjual setelah 10 tahun di posting di bisnis properti.

 

Neverland Ranch sendiri merupakan rumah yang cukup aneh ketika saya mencarinya di internet (karena tidak mungkin saya harus ke sana dan membuktikannya sendiri hehe). Namanya terinpirasi dari serial dan film bertajuk Peterpan. Kebanyakan rumah milik orang tersohor akan dipenuhi barang-barang mewah dan jarang ditemui di rumah para jelata. Ya, barang-barang i Neverland Ranch benar-benar unik dan mengerikan.

 

Menurut pengakuan penyelundup rumah itu di vice.com mengatakan jika rumah ini kebanyakan berisi hal-hal yang disukai anak-anak. Seperti kebun binatang, ruang permainan, lukisan dan barang-barang lainnya. Cukup aneh, karena MJ (singkatan untuk mendiang Michael Jackson) adalah orang dewasa ketika dia membeli rumah itu. Tidak keluar dari penamaan yang merupakan tempat ini surga bagi anak kecil, hal itu bisa menjadi faktor penyebab. MJ juga suka mengundang anak-anak kecil ke rumahnya sebelum digeledah oleh kepolisian Amerika pada tahun 2003.

 

Bukan karena menyimpan kokain seperti kebanyakan kasus influencer lainnya, tapi dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak. MJ memang sangat terkenal menyukai bocil, tapi tidak dipungkiri hal tersebut bisa terjadi. Rumahnya yang digeledah secara sepihak ini, membuat MJ merasa tidak aman berada di Amrik, dan tinggal di Dubai hingga kembali ke tanah kelahirannya dan meninggal dunia. Sikap MJ ini menambah kecurigaan khalayak tentang hubungan menyukai anak kecil atau Pedofilia dan King of Pop (julukan MJ) tersebut.

 

Beberapa faktor pendukung dugaan ini bertambah, saat dirilisnya film dokumenter Leaving Neverland. Yaitu dokumenter yang mengungkap pedofilia MJ yang terjadi di rumahnya. 2 orang narasumber di film itu mengaku pernah disodomi oleh MJ. Anehnya mereka baru menceritakan hal tersebut saat sudah berumur. Tentu saja itu merupakan pemerasan terhadap MJ dan menambah polemik yang ada. Cukup disayangkan, mereka berani melaporkan setelah sekian lama, apakah sebenarnya mereka juga menikmatinya?, biarlah pertanyaan ini dijawab oleh pihak terkait sendiri. Dan seharusnya merusak reputasi orang setelah meninggal dunia tidak pantas dilakukan, karena baru mengakui kejujuran saat semua sudah menghormatinya.

 

Kembali kepada MJ, ia sendiri tidak lepas dari masa lalu yang kelam. Orang tuanya mendidik MJ dan saudara-saudarinya untuk menjadi bintang atau orang ternama. Berbagai kekerasan dilakukan, seperti kekerasan mental dan fisik. Sehingga membuatnya tidak mendapat masa anak-anak yang menyenangkan.

 

Jackson juga pernah dirundung oleh saudaranya, dengan menguncinya dengan perempuan di kamar mandi. Tujuan dari hal ini tidak lain agar Jackson bergairah dan melakukan seks. Namun diluar dugaan, setelah berjam-jam dikunci, Jackie hanya berbincang-bincang dengan perempuan itu. Cukup mengherankan, Normalnya laki-laki akan bernafsu untuk hal ini. Bukan karena kuat iman, tapi kembali kepada sejarah kelam pria itu.

 

MJ yang mengalami siksaan berat saat kecil menjadi terobsesi dengan anak-anak. MJ merasa jika anak-anak harus mendapat kebahagiaan yang sama dan tidak ada perbedaan dengan orang dewasa. Mencurigakannya, lagu yang dibuat MJ, We Are the World,  berisi lirik yang berbunyi “We are the children,” “kita adalah anak-anak.” Lagu ini seperti memberi representatif bahwa obsesi MJ terhadap manusia-manusia kecil ini sangat ekstrim. Kebanyakan lirik pada sebuah lagu juga mengandung makna tersirat maupun tersurat. Khawatirnya, jika tuduhan tersebut semakin menguat.

 

Dari berbagai rentetan kasusnya dan cocokologi dengan masa lalu yang kelam tersebut, tidak menutup kemungkinan dan saling berkaitan. Sebuah penyakit mental seperti Parafilia (kondisi hasrat seksual abnormal) dapat menyerang siapa saja, seperti yang dialami MJ. Parafilia menjadi perhatian khusus karena beragamnya jenis dan isi-isi yang terkandung di dalamnya.

 

Kekerasan psikis dan fisik dapat mempengaruhi pola pemikiran seseorang. Belum tentu kekerasan dapat memberi buah kebaikan, namun pemahaman ekstrim juga dapat terjadi. Banyak kejadian serupa yang didukung oleh trauma masa lalu. Tidak mungkin orang menjadi gay, lesbian begitu saja, karena semua manusia dilahirkan secara suci. Faktor-faktor seperti orang tua, prilaku, kondisi sosial, dan masyarakat menjadi pemicu utamanya. Trauma tersebut juga menciptakan despresi yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Pemikiran jika sudah melakukan suatu hal maka terpuaskan, tidak berlaku jika sudah dihubungkan dengan hasrat. Awalnya hanya mengatasi trauma saja, namun hanya mendapat kekosongan karena belum menemukan jawaban yang tepat. Memaksanya untuk melakukan lebih dan lebih.

 

Dalam pembahasan ini menunjukkan jika orang terkaya pun tidak bisa lepas dari kesedihan, keanehan, dan trauma, walaupun kekayaan bisa membeli apapun. Seperti kisah-kisah yang sering didendang, ‘satu hal yang tidak bisa dibeli, adalah kebahagiaan.’ Masyarakat sering mengkasih hani mereka yang menjadi korban dan pelaku, namun tanpa sadar menjadi pihak yang terlibat. Anak-anak tumbuh dari kondisi sosialnya. Seperti MJ, semua masa lalunya membuatnya menjadi terduga pedofilia. Di sisi lain, MJ masih menjadi terduga, namun semua itu sudah tidak bisa disangkal jika banyak faktor-faktor yang semakin menguat.

 

Untuk semua kalangan masyarakat di sana, pemerhatian terhadap tumbuh kembang anak-anak itu penting. Bukan hanya peran orang tua kandung, tapi semua yang di luar sana. Jangan sampai menciptakan keabnormalan baru lainnya, dan merasa tidak terlibat di dalamnya. Karena masyarakat adalah sebuah contoh dari peradaban. Semoga MJ tenang di alamsana dan semua tuduhan itu segera berakhir.

Rabu, 06 Januari 2021

Bagaimana menghindari Toxic Relationship di Adu Nasib

 


Mungkin hal ini sudah lumrah dijumpai di manapun dalam sebuah konversasi empat mata hingga di sebuah pengajian. Suatu aktivitas yang juga penting dan muncul dari spontanitas ini akrab ditemukan baik secara dunia nyata hingga dunia maya. Adu nasib tidak jauh berbeda dengan menceritakan pengalaman diri sendiri, semua orang juga membutuhkan ceritanya didengar oleh individu lain.

 

Hal yang biasa ini menjadi sebuah meme atau guyonan pada tahun 2020 silam di dunia internet. Dimulai dengan keresahan pengadu nasib pertama yang tidak terima dengan kata “lah elu masih mending, gua..,” yang dilontarkan oleh para komenter hingga bermunculan sebagai satir baru yang sedang berkembang di dunia maya. Banyak postingan yang memenuhi beranda sosial media tentang kejadian tersebut, cukup menganggu karena terlalu sering ditemui.

 

Adu nasib sendiri bukanlah problema yang besar namun tidak selalu sepele, banyak kasus serupa yang bisa ditemui dalam keseharian dan tidak ada yang menanggapi hal ini secara kasar, walupun ada emosional di dalamnya. Seperti halnya, ibu-ibu yang berkumpul pada sebuah toko kelontong membandingkan pekerjaan anak – anaknya. “Jeng, anak ku suka banget keluar malem, buat kabar miring tentang keluarga saja, bisa-bisa dikira ada apa-apa nanti anak ku,” “lah anak saya malah gak mau keluar rumah, kerjaanya di depan laptop aja bu, saya kan khawatir kalo dia jadi kurang pergaulan sama masyarakat nantinya,” seperti itulah adu nasib yang sering digunakan oleh ibu-ibu di Indonesia. Semua mengalir seperti biasa.

 

Tapi, adu nasib ini bisa memicu emosional apabila dibumbuhi dengan kesombongan.  Sifat natural itu menjadi hal menyenangkan dalam sebuah percakapan, tapi tidak menutup kemungkinan jika terjadi sebuah bentrokan pada akhir pembicaraan. Yang awalnya hanya ingin menceritakan keseharian dan tidak diterima oleh sebagian pihak karena dianggap sepele dan berwujud keresahan, merubah momen mengasyikkan tersebut menjadi perdebatan. “Susah banget sih soal ini,” “Apaan anak SD juga bisa itu, ini nih yang bener-bener susah,” sikap seperti inilah yang akhirnya menjadi Meme baru di Internet 2020.

 

Adu nasib adalah pembunuh perbincangan yang sering digunakan. Tujuannya untuk mengintimidasi lawan bicara. Walaupun lawan bicara bisa menerimanya, tetap saja hal itu adalah pengakhir sebuah pembicaraan. Ada beberapa cara agar adu nasib ini tidak berakhir pada kesombongan dan kembali kepada esensinya, yaitu mengungkapkan cerita tersendiri untuk orang lain.

 

Pada orang yang akan mengadu nasib, lebih baik tidak menjaga perkataan dan tidak menambahi kesombongan. Berusaha untuk menjadi pendengar atau menjadi lawan bicara adalah cara menghilangkan ego diri sendiri. Sedikit memuji cerita orang lain juga harus ditambahi. Seperti halnya “Wah keren ya, Kalau aku sih..gini gitu.” Bersikap tidak sok tahu juga penting dan mengatakan “kita sama” juga hal yang harus dihindari, karena sikap tersebut sama saja tidak menghargai lawan bicara, karena mereka akan beranggapan bahwa tidak ada yang spesial atau menarik dari kisahnya disebabkan pernah dialami orang lain. Cara ini akan membuat elegan adu nasib anda agar diterima. Dilanjutkan dengan meminta pendapatnya tentang kedua cerita dari orang berbeda tadi. Sedikit diskusi akan menambah jatah waktu pembicaraan agar tidak cepat selesai.

 

Begitupun juga memberi pertanyaan mendalam. Pertanyaan mendalam dapat membantu lawan bicara agar lebih berterus terang. Hal tersebut juga memberi stimulus, karena lawan bicara akan merasa diperhatikan dan apa yang dialaminya menarik bagi penerima. Namun, harus tetap menerima apa yang keluar dari ucapannya, bai itu saran, kritik, ataupun cerita tambahan. Sikap legowo ini juga memberi sinyal jika anda tidak mengecewakan apabila menjadi tempat curhatnya.

 

Pada akhirnya adu nasib dan saling bercerita mempunyai esensi yang sama, hanya saja ego kerap timbul terbawa.Namanya juga manusia, apalagi itu sikap spontan. Tapi mulai belajar untuk menjaga sikap dan perkataan juga bukan hal buruk. Jikalalu cara di atas dilakukan, maka akan berhasil menambah daya tarik lawan bicaranya, malahan untuk mereka yang sedang berstatus gebetan akan memberi boosting menuju hubungan yang serius. Tentu saja tidak mau kan apabila hubungan kita dengan orang lain memburuk karena membesarkan ego masing-masing, apalagidia orang tersayang. Mulai merubah semuai tindakan salah kaprah ini, buat menjadi hal yang menguntungan bagi semua pihak.

 

Syahdan, manusia tidak bisa lepas dari keresahan-keresahan. Keresahan ini juga harus diungkapkan agar tidak membebani diri sendiri dan orang lain, seperti dengan cara adu nasib. Dalam kehidupan memang butuh adu nasib, atau refrensi dari orang lain. Karena perbedaan diciptakan untuk menemukan kesamaan. Semua orang terlahir dengan jalan hidup yang berbeda, dan mempunyai masalahterberatnya sendiri. Tidak boleh merasa ‘paling’ karena belum tentu anda bisa menjadi dia, dan dia menjadi anda. Hakikatnya pun sama sama manusia, harus butuh saling pengertian atau arabnya Hablum Minnanas. Lebih afdol membawa adu nasib tersebut menjadi menyenangkan seperti kiat di atas adalah cara agar semua tidak carut marut dan mengurangi sikap cemberut, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Cukup terima, dan mengerti kondisi orang lain itu sudah bagus. Jangan pernah merasa sok, karena sama saja akan membuat kesenjangan pada orang lain. Tetap membumi Lads. (Ahr)