Semua musik mempunyai cerita tersendiri,
jikalau ada yang mengatakan
"musik hanya lantunan suara, tak lebih. Aku menikmati musik sebagai hiburan," ingin rasanya mencongor lambe
orang-orang kayak gitu. Sebagai penikmat Emo, Punk, Metal, dan genre-genre musik yang dianggap sesat, saya
meyakini bahwa semua musisi membuat lagu dengan kerja keras dan maksud tertentu
di musik yang dilantunkan.
Bisa dibilang semua ada filosofinya,
hingga salah satu anak yang
mengaku anarko kesal dengan kalimat saya ini. "Kenapa kok semua harus berfilosofi?",
lantas salah satu orang didekat saya kala itu menjawab bahwa semua hal
mempunyai nilai sentimentil bagi setiap orang. Peraduan argumen mereka membuat saya berpikir
mendalam layaknya bocah kemarin sore yang menyebutnya overthinking.
Jikalau musik diciptakan hanya untuk merangsang indra pendengaran saja,
tentunya tidak mungkin.
Mari menjawab pertanyaan anak Anarko tadi yang juga mengagumi Nancy Spungen. Sebuah musik diciptakan
dengan alunan instrumental dengan nada-nada tertentu
yang membuat motorik otak berpikir tema yang dibawakan, biasanya diusung dengan
instrumental yang terdengar
bahagia maupun sedih. Tentunya anda akan menyadari sebuah musik
sedih jikalau pembawaannya rapuh dan dengan tempo yang lambat. Kemudian, unsur vokal digunakan sebagai penjelasan dari
keberadaan instrumental. Musik yang berisi vokal biasanya lebih jelas dalam mengungkapkan pesannya, karena lirik adalah pakem
dari penggambaran adanya sebuah instrumental musik. Sedangkan apabila hanya instrumental, pendengar bisa
menafsirkan sendiri pesan yang dibawakan sesuai dengan keinginan
pendengar. Sebelumnya saya sudah membuat tulisan yang berisi
"instrumental atau vokal?", karena bagi saya tidak semua orang bisa
menyukai keduanya, maka harus diberi pilihan. Eksistensi instrumental membantu
otak setiap pendengar untuk mengelola maksud lagu itu sendiri. Otak akan
menangkap sebuah memori dari keberadaan instrumental, dan memadukan dengan apa
yang anda dibayangkan. Berbeda dengan musik bervokal, yang membuat anda paham
apa yang disampaikan melalui lirik. Jikalau saya disuruh untuk memilih, maka jawabannya adalah
kondisional atau disesuaikan dengan kebutuhan .
Berkali-kali saya mencela orang yang tidak mengerti
sebuah esensi dari sebuah produk, seperti musik. Karena musik membawa emosional
dari penulis hingga pendengarnya. Seperti salah satu lagu Superman is Dead pada
album Hangover of Decade yang membekas di memori saya pada tahun 2015
silam, Disposable
lies atau jika diterjemahkan menjadi kebohongan sekali pakai.
Penggalan lirik dan terjemahan
:
However much you want to show that
Bagaimanapun banyak yang kau ingin
tunjukkan.
You keep me inside and what you really care
Kau menjagaku di dalam dan apa
yang benar-benar kau pedulikan.
Have a close look deep into your flame
Melihat dari dekat gejolakmu.
Time is running out, nothing to hide away
Waktu hampir habis, tidak ada (waktu) untuk
menyembunyikan diri.
I know we’re both all right
Aku tahu kita berdua baik saja.
Picking up the way back to get home
Mengambil jalan kembali untuk pulang ke
rumah.
It’s the hardest thing that we think all night
Ini hal yang paling sulit yang kita
pikirkan sepanjang malam.
Anything could be the adventure
Apa pun bisa menjadi petualangan.
It’s all growing and beyond the tragedy
Ini semua tumbuh dan di luar tragedi.
It’s time to go, start running around
saatnya pergi, mulailah berlari.
Do it faster that I write
Lakukan lebih cepat dari yang ku tulis.
Leave it all behind, all the things we’ve burnt
Meninggalkan semuanya di belakang, semua hal
yang telah kita dibakar.
Cruising down the memory
menyusuri ingatan.
Since I don’t know what the last
karena aku tak tahu apa yang terakhir.
Heaven’s got it all
Surga mendapatkan semuanya
Lagu tersebut berisi semangat untuk melaju
dalam berkehidupan, setelah
melalui ingatan masa lalu yang kelam. Sialan, lagu ini tertanam dalam otak saya
sehari sebelum sebuah
peristiwa menyedihkan terjadi kala itu, seakan membawa pesan jikalau saya tidak bisa
terkekang oleh masa lalu. Setelah itu, saya mulai mencari filosofi-filosofi,
makna, arti dan keterkaitan
lagu dengan kehidupan, tekhususnya saya sendiri. Mungkin kebiasaan ini yang membuat saya membenci
orang-orang yang menyukai lagu tanpa mempedulikan maknanya.
Dari penggambaran lirik pada lagu tersebut sudah
sangat jelas, dan terasa seperti dakwah kyai bagi saya. Banyak musik yang sudah
bersarang dalam otak, karena menurut pribadi ini produk tersebut lebih mudah
dan cepat terekam esensinya. Beberapa lagu bahkan saya larang sendiri untuk
diputar, karena menyayat hati dan membawa duka yang dalam. Jikalau anda orang
yang pernah berada di samping saya, maka anda akan menemui saya diam termenung
pada beberapa lagu (tapi, tentunya anda tidak peduli tentang ini).
Musik bisa membuat pendengarnya ikut bernyanyi, ada
yang bersuara dengan luapan emosi atau dengan suara yang lirih. Hal ini
mewakili perasaan pendengar itu menyampaikan maksud dari lagu dan hubungan
antara keduanya. Semakin keras ia bernyanyi, berarti itulah yang ingin ia
tunjukkan kepada dunia dan berlaku sebaliknya. Hal ini bisa
dibuktikan secara psikologis tentang orang yang bersuara dengan suara keras dan
lantang, maka dia ingin didengarkan.
Sungguh merepotkan jikalau hanya untuk mendengar musik
saja harus seruwet ini, ya...tapi itu yang saya alami. Sungguh amat berterimakasih
untuk musisi yang menciptakan karya-karyanya, mereka adalah pewakil kebebasan
berpendapat dan ekspresi dari sebuah jiwa.
Setidaknya dari tulisan ini, anda bisa memahami esensi dari musik dan
menghargai semua pihak yang terlibat di dalamnya, termasuk saya.


