Rabu, 25 November 2020

Gula Ngimpor? Lah salah siapa Dulu?

 


Indonesia menjadi pengimpor gula nomor satu di dunia dengan volume lebih dari 4 juta ton. Kebijakan pengelolaan gula di Indonesia sendiri saat ini mengalami keterpurukan. Hal tersebut membuat pemerintah harus mengurangi ketergantungan mengekspor gula dan memproduksi gula-gula dalam negeri.

 

Sebenarnya masalah-masalah pabrik gula di Indonesia ini di mulai pada saat penutupan Perkebunan Nusantara atau PTPN-PTPN sejak 2015 silam. Pemroduksian gula difokuskan pada 1 pabrik di masing-masing kabupaten. Tidak main-main, tentunya pabrik tersebut menggunakan mesin terbaru dan para ahlinya. Jadi, kemanakah pabrik gula yang ditutup ?.

 

Sebenarnya pabrik-pabrik yang ditutup itu adalah pabrik gula bangunan zaman kompeni dan masih digunakan setelah kemerdekaan. Mesin yang digunakan memang usang, namun kinerjanya sangatlah maksimal, karena bahan-bahan mesin yang digunakan mengacu pada bahan eropa. Hal itu yang membuat pabrik gula di Indonesia bertahan sangat lama.

 

Tidak menutup kemungkinan, tentunya PT. Persero dan pengelola pabrik masing-masing, juga membeli mesin-mesin terbaru untuk kebutuhan gula. Dan proses itu dilakukan di semua pabrik gula. Pada dasarnya, semua pabrik gula baik yang ditutup hingga masih buka saat ini, bila digunakan kembali, maka hasil produksinya akan sama.

 

Namun, alasan ditutup pabrik-pabrik gula tersebut adalah mengefisienkan tempat pemroduksian dan mengurangi pembengkakan dana untuk menggaji semua karyawan PT. Persero. Kecewa sekali ketika buruh pabrik gula yang di PHK hanya mendapat pesangon setara 2 bulan kerja, atau 4 juta kala tahun 2016 itu. Persero benar-benar memangkas semua dana mulai dari pabrik hingga PHK karyawan.

 

Bukannya semakin efisien dengan menggunakan 1 pabrik, tidak banyaknya lahan tebu di Jawa membuat pabrik harus sering libur untuk menunggu tumbuhnya tanaman itu. Masalah ini sebenarnya juga dilayangkan oleh pemerintah. Kebun-kebun tebu masyarakat yang disewa oleh PT. Persero melalui pemerintahan desa, tidak mendapat banyak upah, padahal lamanya lahan dibutuhkan minimal 6-8 bulan. Kebanyakan masyarakat akhirnya menjual tanah mereka ini menjadi tanah kavling, yang bisa menghasilkan miliaran Rupiah.

 

Tidak salah jika masyarakat menjual lahannya, daripada mereka harus menerima beberapa juta per tahun dari lahan tebu. Hal itu menyebar ke seluruh daerah, ditambah makin padatnya penduduk, membuat lahan-lahan perkebunan berubah menjadi bangunan. PT. Persero harus gigit jari melihat hal tersebut. Lahan semakin habis, pabrik ditutup, pengusiran para mantan karyawan. Lengkap sudah dikarenakan kebijakan yang tidak komprehensif sejak awal.

 

Kabarnya Direktur Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian Kasdi Subagyono akan membuka lahan tebu sekitar 50.000 Hektar.  Jikalau pembaca mau menebak, dimanakah akan dibabat hutannya untuk lahan tebu?. Yap, tidak ada keterangan lebih lanjut, namun jika saya prediksi adalah kepulauan selain Jawa.

 

Karena pulau Jawa sendiri sudah sesak penduduk, suatu kegoblokan jika harus mencari-cari lahan baru di Jawa, jikalau saja mereka tidak membayar rendah biaya penyewaan. Mau kemana lagi di pulau Jawa ini?, naik lembah?, Lori gak bisa angkut, tarik kebo masih bisa.

 

Cukup kesal untuk membicarakan pertebuan tersebut. Dulu ketika pabrik gula masih banyak, khususnya di Sidoarjo. Sidoarjo menjadi kota penghasil tebu, bahkan bisa mempunyai ciri khas yang diwariskan dari zaman belanda. Festival buka giling tiap tahunnya yang amat besar dan mengundang artis-artis ternama. Tidak hanya mengundang pada satu pabrik, tapi seluruh pabrik di Sidoarjo akan bersaing memeriahkan pestanya masing-masing. Kini hal itu hanyalah kenangan. Sidoarjo sudah benar-benar ‘mati’, dikarenakan hiburan-hiburan warisan ini telah sepenuhnya hilang. Kalaupun ada, itu juga Cuma hiburan biasa dan sekilas melintas. Saya mengatakan mati, karena pemroduksian gula terbesar di Jawa Timur adalah Sidoarjo. Dulunya tiap kecamatan mempunyai satu pabrik gula. Jelas mati, jika difokuskan pada satu pabrik saja saat ini, itu pun tidak menggunakan pesta buka giling, atau seperti pabrik-pabrik biasa.

 

Kembali pada lahan, Saya yakin jika yang dimaksud adalah tanah Sumatra dan Bali. Pasalnya tanah ini masih asri dan luas. Mulailah pembukaan lahan baru, namun hal tersebut harus diimbangi dengan pemugaran satwa-satwa yang terusir karena hal tersebut. Kebanyakan pembukaan lahan di Indonesia, selalu mendapat kabar buruk tentang tewasnya sawa-satwa. Entah biayanya yang dipangkas, mungkin karena itu satwa-satwa tidak diamankan. Atau bisa saja menjual satwa-satwa ini, karena yang dari hutan pedalaman, biasanya satwa langka. Entah, permainan apa yang sedang dilakukan selama pembukaan lahan-lahan di Indonesia, semua terasa saling berkaitan.

 

Dengan pembukaan lahan baru tersebut, tentunya akan meningkat pemroduksian gula dalam negeri. Namun, seperti seharusnya, kebijakannya juga harus komprehensif. Mulai dari penyewaan lahan, mesin-mesin, gaji karyawan, dan hal sebagainya. Hal tersebut demi mengantisipasi masalah-masalah serupa yang sudah dijelaskan dari awal tadi. Semoga saja tanah air ini tetap bertahan demi kemajuan anak bangsa.

Rabu, 18 November 2020

Perkebunan Karet di Indonesia meningkat, kebahagiaan atau keburukan?

 

 

 


 

 


Dilansir dari berita harian kompas 18 November 2020, halaman 11. Yang berjudul ”Komoditas Karet : Permintaan Pasar Dunia Meningkat”. Dapat ditemukan permintaan ekspor karet Indonesia di bulan itu mencapai peningkatan 80 persen dari bulan sebelumnya. Yang awalnya hanya mengekspor 4.826 Ton menjadi 7.628 Ton. Selain terdampaknya pada ekonomi, hal ini juga berdampak pada beberapa faktor lainnya.

 

Kebutuhan ekspor karet yang tinggi tidak menjadikan Indonesia bangga saja. Pasalnya ada aspek lingkungan yang harus diperhatikan. Peningkatan 80 persen dari jumlah ekspor per bulan sebelumnya, menandakan para pekerja kebun karet harus bekerja dua kali lipat. Hal tersebut bisa merembet pada jumlah pemroduksian bahan baku kedepannya. Alam akan dipaksa untuk terus menghasilkan karet setiap bulannya, belum lagi peningkatan ekspor sangat tinggi.

 

Pohon karet membutuhkan waktu 5-6 tahun untuk bisa disadap karetnya. Lamanya proses tersebut tentu membuat kebahagiaan ini terasa singkat. Mungkin ada cara lain dengan membuat lahan baru, namun itu sama saja mendominasi alam. Penguasaan lahan yang fokus pada satu tanaman, akan membuat kekurangan pada bahan-bahan lainnya. Belum lagi biaya-biaya yang dikeluarkan, cukup membuat ketar-ketir.

 

Permintaan yang tinggi ini pasti akan tetap dipertahankan demi perekonomian. Dampaknya upah pada petani meningkat. Seperti petani di Serdang yang mendapat upah 10.300 rupiah dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya 6.000 rupiah per kilogramnya. Tetapi kenaikan harga tersebut akan membuat para petani bersaing ketat untuk mendapatkan banyak klien. Karena, Asia Tenggara, khususnya Indonesia menjadi pengekspor getah karet 90 persen ke seluruh dunia.

 

Akan muncul banyak pengusaha baru untuk mendapat nama melalui produktifitas perkebunan tersebut. Yang awalnya hanya persaingan petani biasa menjadi persaingan pabrik-pabrik. Belum lagi para kartel yang bisa saja ada di dalamnya. Petani kelas bawah akan semakin dilewati oleh nama-nama perusahaan. Hal tersebut juga yang membuat beberapa petani tetap menjadi petani, atau tidak bisa berkembang.

 

Pemerintah mendukung penuh aktivitas ekspor ini dengan cara memudahkan prosesnya. Dikhawatirkan saat Karet tidak bisa disadap  karena waktu panennya, maka Indonesia akan kekurangan bahan baku karet. Dan akhirnya Indonesia melakukan Impor besar-besaran, sama seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang sedang membutuhkan saat ini.

 

Konsep itu disebut 50:50 atau seri. Indonesia tidak akan menyimpan keuntungan jika konsep tersebut masih dilakukan. Salah satu cara terbaik untuk mengambil keuntungan dari bisnis karet ini adalah melakukan kelangkaan pada tumbuhan pohon karet.

 

Seperti membatasi jumlah Ekspor. Disamping kebutuhan dalam negeri, hal ini menanggulangi kelonjakan drastis dari negara-negara pengekspor. Mungkin akan membuat permintaan semakin besar, namun itu memberikan ilmu kepada msyarakat. Yaitu menjaga alam dan menghematnya. Semua harus dilakukan seimbang dan tidak fokus pada materi saja. Kelonjakan ekspor memang meningkatan grafik penjualan. Tapi, yang terpenting adalah menjaga grafik tersebut.

 

Negara-negara Asia Tenggara lainnya tidak akan merebut pasar Indonesia, jika kondisinya tidak kritis. Pada akhirnya Grafik akan stabil, tapi mengalami peningkatan drastis. Kondisi ekonomi Indonesia tidak akan seperti estafer, yang harus terus dioper.

 

Di sisi lain, Penjagaan kestabilan ini bisa membuat Indonesia mendapat citra baik, khususnya di meja kurs. Rupiah semakin menguat dari tahun ke tahunnya. Pada Maret, 2020 Rupiah mendapat angka 16,285.93 pada Dollar. November ini, 1 Dollar sudah menjadi 14,161.75 Rupiah saja. Dalam kurun waktu 8 bulan, rupiah sudah mengalami penguatan 2,000 Rupiah. Keadaan seperti inilah yang harus dijaga.

 

Jika jumlah Ekspor-Impor Karet bisa diatur, maka tidak menutup jika Rupiah akan semakin menguat setiap bulannya. Penguatan tersebut bisa digunakan sebagai daya tarik negara lain pada Indonesia. Indonesia yang juga merupakan negara penghasil sumber daya alam terbesar di dunia, akan membuat banyak negara yang berusaha mendapatkannya. Tapi, mereka harus membayar cukup mahal. Mau tidak mau, atas kebutuhannya, negara-negara luar akan menuruti Indonesia.

 

Strategi tersebut bisa digunakan untuk meningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia. Tentunya tidak hanya pada sektor karet, bisa diterapkan pada perkebunan lain. Seperti kelapa sawit, buah dan sebagainya. Hal tersebut menjadikan kondisi sumber daya alam Indonesia akan tetap terpelihara. Masyarakat akan lebih memilih menjadi petani daripada pekerja kantoran. Identitas Indonesia semakin terjaga, hal inilah yang menentukan kebangkitan ‘macan Asia yang sedang tertidur’ (julukan Indonesia).

 

Berbicara pada sektor pekerjaan, tentunya dibutuhkan tenaga kerja yang ahli untuk semakin meningkatkan perkembangannya. Dampaknya adalah pada mata pelajaran di sekolah hingga Universitas. Akan banyak jurusan Agri yang dibuka dan diminati masyarakat. Banyaknya varian jurusan ini akan membuat masyarakat tidak terpaku pada satu ilmu populer saja. Keberagaman tersebut bisa dijadikan tonggat Indonesia. Jadi Indonesia tidak akan terus menjadi negara ketiga.

 

Bagaimanapun, Alam adalah bahan kombinasi terbaik untuk negara ini. Indonesia tidak perlu menghilangkan identitas nenek moyangnya untuk menjadi negara-negara besar. Tapi, menentukan jalannya sendiri, dan menjadi penantang baru. Alam Indonesia sangat dikenal luas, jika pemanfaatan juga baik, maka akan banyak negara-negara yang iri pada Indonesia. Kemajuan secara merata membuat Indonesia menjadi negara maju dan bisa saja mendominasi dunia. Well see..