Bunyi Alarm anakku terdengar keras
hingga membangunkanku. Jarang sekali aku bangun dengan suara Alarm biasanya aku
bisa lebih dulu bangun dari hal itu. Dengan setengah mengantuk, kupikir kopi
bisa mencairkan suasana pagi. “nduk, buatkan bapak kopi,” “Haduh pak, aku udah
telat kerja. Buat sendiri aja, bahannya ada kok,” jawab anakku. Terpaksalah aku
membuat kopi. Setelah siap, aku pun pergi ke teras rumah, ditemani 2 batang
rokok dengan segelas kopi hitam. Kulihat anakku dengan tergesa-gesa pergi
meninggalkan diriku, dan kini tinggal aku sendiri di rumah. Kunyalakanlah 1
batang rokok sembari menikmati matahari.
Sudah 1 tahun, aku hidup sendiri
semacam ini. Sebelumnya, ada istriku yang masih membuatkan kopi kepadaku. Dia
adalah istri yang cerewet. Setiap kelakuanku yang tidak membuat hatinya senang,
maka dia akan marah besar. Namun, aku hanya bisa mendengarkannya. Karena, aku
mengerti rasa sakitnya menjadi ibu dari 4 anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan.
Tapi, ia sudah kembali ‘pulang’, karena penyakit stroke yang ia alami selama 2
tahun yang lalu. Aku masih ingat tubuhnya menjadi kurus, dan tak lagi mampu
mengomeli diriku.
Sebelumnya istriku dirawat penuh oleh
anak ketigaku. Perempuan yang kini masih tinggal serumah dengan bapaknya.
Akhir-akhir ini dia dilanda masalah rumah tangga. Dia bertengkar dengan
suaminya, perihal ekonomi. Dia berkarakter keras dan kepala batu, hingga
membuat keadaan di rumah menjadi tegang. Padahal dia sudah mempunyai 2 anak yang
masih kecil. Aku khawatir dia bercerai dan menikah lagi. Apakah sudah hilang
rasa kepada anak-anaknya?, ah memang dia adalah anakku yang paling bodoh.
Tak hanya aku yang berpikir anak
ketigaku yang paling bodoh. Kakak tertuanya juga mengatakan hal yang sama,
bahkan tepat di mukanya. Anak pertamaku tidak jauh dari sifat ibunya, cerewet
dan mudah marah. Kini dia sudah menjalani separuh hidupku di masa lalu.
Mempunyai 2 anak, dan anak tertuanya bahkan sudah kuliah. Aku membayangkan
beratnya dia hidup bersama suaminya selama itu. Belasan tahun yang lalu, aku
masih memeluknya kala dia menangis saat awal berumah tangga. Suaminya sangat
keras kepala dan tega. Bekali-kali anak pertamaku datang kepada ibunya dengan
darah dan air mata. Tapi, dia tidak sebodoh anak ketigaku. Dia masih kuat
menjalani hidup, hingga bisa menyekolahkan anaknya ke universitas, suatu hal
yang sangat bagus. Mengingat aku tidak lulus SD.
Berbeda lagi dengan anak keduaku.
yang sekarang telah menjalani hidup mapan di seberang pulau. Anakku yang satu
ini lebih kaya dari saudara-saudaranya. Aku ingat ketika dia memutuskan untuk
pergi merantau. Kala itu, dia hidup bersama istrinya di kota seberang. Beberapa
kali dia harus berhenti pekerjaan, karena mengalami masa sulit. Istrinya selalu
mengejeknya perihal tidak memberi kehidupan pada keluarganya. Dia akhirnya
pulang ke rumah ini, dan berputus asa dihadapan ibunya, bahwa dia bukanlah
bapak yang baik. “Nak, ini sudah tanggung jawabmu. Kamu sudah bukan lagi
menjadi anak, melainkan ayah. Kamu sudah berada di level bapakmu. Maka
lakukanlah apa yang sudah menjadi tugasmu,” wejangan istriku pada anakku ini
masih kuingat hingga sekarang. Dia pulang ke rumah istrinya dengan berkaca-kaca
mendengar nasihat ibunya. Pada akhirnya dia sudah beruntung hidup di negeri
orang.
Lain dengan anak bungsu kami, dia tidak
seberuntung kakak laki-lakinya. Dia lebih dulu meninggalkan ibunya pada usia
yang masih muda. Dia mengalami kecelakaan yang membuatnya kehabisan darah dalam
akhir hidupnya. Aku dulu turut mengantarkannya ke rumah sakit. Dia saat itu
masih bisa berbicara, “Pak, aku dimana?, Ibu dimana?,” Ucapnya dengan lirih.
Aku tak tega mengingatnya lagi. Dia anak terkecil kami, satu-satunya penghibur
di masa tua kami. Lebih dulu meninggalkan bapaknya yang sudah tua ini.
Tidak terasa satu batang rokokku hampir
habis. Ingin kunyalakan satunya, namun aku teringat pada pekerjaan. Menjadi
tukang parkir dirasa tidak membuat nyawaku begitu terancam. Kini aku harus
bekerja untuk diriku sendiri, karena aku sudah tidak punya tanggungan menjadi
orang tua lagi. Semua anakku yang tersisa telah menjadi orang tua, dan aku
harus melepaskannya. Kusimpan rokok itu dalam sakuku, dan bersiap pergi
berkeja.
