Menanggapi
tulisan liar dari jambanberpikir.blogspot.com, saya (penulis) digambarkan sebagai
melankolis. saya dianggap sebagai dua sisi bersebrangan yang menyatu - di sisi
lain suram, di sisi lain 'sadboy'. Seperti karakter 'Two Face' musuh anak
malam Batman. Memang terlihat seperti itu, dan saya rasa itu berangkat dari
nama.
Nama saya adalah Hilmy, dan disinggung di “Sebuah Akhir
Dari Awalan” dalam blog jambanberpikir. Hilmy adalah dari bahasa Ara, apabila diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia, berarti sabar. Bukan sabar si
montir bengkel Arum Jaya. Dinamai Hilmy oleh ibu saya, karena saya mempunyai
kecacatan di bagian telinga, berangkat dari kisah ibu saya yang pernah
mengalami kecelakaan ketika hamil besar mengandung saya. Untungnya, tulisan ini mampu diketik dan dibaca
hingga saat ini.
Entah
nama memang adalah sebuah doa, berkali-kali saya harus memang harus sabar
menghadapi masalah hidup, hingga membentuk karakter berbeda di setiap tempat.
Ario pemuda grisee atau Gresik, pernah menyinggung saya ketika mengalami perubahan
karakter di rumah dan di luarnya. Dia bergumam 'Hilmy' seperti keluar dari
kegelapan ketika pergi dari rumah, itu memang bentuk dari kesabaran saya
menghadapi manusia-manusia lain.
Hingga
orang-orang di sekitar harus sabar menghadapi saya. Ketika saya menghadapi
masalah, maka otak saya ini akan berpikir relaks dan memberi
saran kepada raga agar tetap sabar. Kenyataannya sabar itu berawal dari pikiran
yang tenang dan positif. Menilai hal buruk sebagai pembersihan dosa cobaan
lebih baik daripada dianggap sebagai Karma. Penilaian ini semakin
mantap, ketika
saya bertemu dengan ajaran Jesus tentang 'setiap orang yang terlahir di dunia itu
membawa dosa, dan dia akan membersihkan dosanya itu ketika menjadi manusia di kemudian
hari'. Berbeda
dengan ajaran Islam yang menerangkan 'setiap bayi itu suci tanpa dosa'.
Bukan
berarti saya menjelek-jelekan agama Islam. Saya juga tetap sowan kepada
orangtua dan sesepuh Islam di tanah Jawa. Saya diajarkan untuk
menghormati dan memanjakan orang tua, karena ilmu dari para orangtua itu lebih
banyak dan setidaknya sebagai pemuda, harus bisa memaknai dan meminta barokah
dari para orang tua.
Saat
tulisan ini dibuat, saya kepikiran dengan ruwetnya masyarakat goa baru
yang memandang masalah secara berlebihan, terutama si Ario. Dengan berpikir
tenang dan sabar, saya menyarankan dia agar sowan kepada para
sesepuhnya. Toh, para orang tua juga lebih lama hidup di neraka buatan
dunia ini. Berdiskusi dengan 'mesin panas' hanya akan membuat mbledos utek saja.
Cobalah untuk menjadi tenang seperti 'kotoran'..eh yang saya maksudkan
adalah
tai di sungai. Tetap mengalir walau hujan,
ataupun rokok Sang Surya menerpanya.
Memang
penilaian orang lain sangat dibutuhkan untuk membuat diri sendiri lebih baik.
Tulisan ini dibuat untuk memperjelas pemikiran orang itu agar tetap
tidak 'belok kiri atau kanan' (kiri?). Terima kasih pada penulis blog
jambanberpikir karena telah mendeskripsikan para masyarakat goa baru yang hina
kece ini.
Sidoarjo, rintik hujan yang disambut
asap rokok - Januari 2020.
,
Kiri?!
BalasHapus