Senin, 06 Januari 2020

DissTrack "Sebuah Akhir Dari Awalan"


,

    Menanggapi tulisan liar dari jambanberpikir.blogspot.com, saya (penulis) digambarkan sebagai melankolis. saya dianggap sebagai dua sisi bersebrangan yang menyatu - di sisi lain suram, di sisi lain 'sadboy'. Seperti karakter 'Two Face' musuh anak malam Batman. Memang terlihat seperti itu, dan saya rasa itu berangkat dari nama.

    Nama saya adalah Hilmy, dan disinggung di “Sebuah Akhir Dari Awalan” dalam blog jambanberpikir. Hilmy adalah dari bahasa Ara, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, berarti sabar. Bukan sabar si montir bengkel Arum Jaya. Dinamai Hilmy oleh ibu saya, karena saya mempunyai kecacatan di bagian telinga, berangkat dari kisah ibu saya yang pernah mengalami kecelakaan ketika hamil besar mengandung saya. Untungnya, tulisan ini mampu diketik dan dibaca hingga saat ini.

    Entah nama memang adalah sebuah doa, berkali-kali saya harus memang harus sabar menghadapi masalah hidup, hingga membentuk karakter berbeda di setiap tempat. Ario pemuda grisee atau Gresik, pernah menyinggung saya ketika mengalami perubahan karakter di rumah dan di luarnya. Dia bergumam 'Hilmy' seperti keluar dari kegelapan ketika pergi dari rumah, itu memang bentuk dari kesabaran saya menghadapi manusia-manusia lain.

   Hingga orang-orang di sekitar harus sabar menghadapi saya. Ketika saya menghadapi masalah, maka otak saya  ini akan berpikir relaks dan memberi saran kepada raga agar tetap sabar. Kenyataannya sabar itu berawal dari pikiran yang tenang dan positif. Menilai hal buruk sebagai pembersihan dosa cobaan lebih baik daripada dianggap sebagai Karma. Penilaian ini semakin mantap, ketika saya bertemu dengan ajaran Jesus tentang 'setiap orang yang terlahir di dunia itu membawa dosa, dan dia akan membersihkan dosanya itu ketika menjadi manusia di kemudian hari'. Berbeda dengan ajaran Islam yang menerangkan 'setiap bayi itu suci tanpa dosa'.

   Bukan berarti saya menjelek-jelekan agama Islam. Saya juga tetap sowan kepada orangtua dan sesepuh Islam di tanah Jawa. Saya diajarkan untuk menghormati dan memanjakan orang tua, karena ilmu dari para orangtua itu lebih banyak dan setidaknya sebagai pemuda, harus bisa memaknai dan meminta barokah dari para orang tua.

   Saat tulisan ini dibuat, saya kepikiran dengan ruwetnya masyarakat goa baru yang memandang masalah secara berlebihan, terutama si Ario. Dengan berpikir tenang dan sabar, saya menyarankan dia agar sowan kepada para sesepuhnya. Toh, para orang tua juga lebih lama hidup di neraka buatan dunia ini. Berdiskusi dengan 'mesin panas' hanya akan membuat mbledos utek saja. Cobalah untuk menjadi tenang seperti 'kotoran'..eh yang saya maksudkan adalah tai di sungai. Tetap mengalir walau hujan, ataupun rokok Sang Surya menerpanya.

    Memang penilaian orang lain sangat dibutuhkan untuk membuat diri sendiri lebih baik. Tulisan ini dibuat untuk memperjelas pemikiran orang itu agar tetap tidak 'belok kiri atau kanan' (kiri?). Terima kasih pada penulis blog jambanberpikir karena telah mendeskripsikan para masyarakat goa baru yang hina kece ini.

                                                       

                                                  Sidoarjo, rintik hujan yang disambut asap rokok - Januari 2020.