Rabu, 06 Oktober 2021

Musik : Media Bercerita Lewat Audio

 

 


Semua musik mempunyai cerita tersendiri, jikalau ada yang mengatakan "musik hanya lantunan suara, tak lebih. Aku menikmati musik sebagai hiburan," ingin rasanya mencongor lambe orang-orang kayak gitu. Sebagai penikmat Emo, Punk, Metal, dan genre-genre musik yang dianggap sesat, saya meyakini bahwa semua musisi membuat lagu dengan kerja keras dan maksud tertentu di musik yang dilantunkan.

 

Bisa dibilang semua ada filosofinya, hingga salah satu anak yang mengaku anarko kesal dengan kalimat saya ini. "Kenapa kok semua harus berfilosofi?", lantas salah satu orang didekat saya kala itu menjawab bahwa semua hal mempunyai nilai sentimentil bagi setiap orang. Peraduan argumen mereka membuat saya berpikir mendalam layaknya bocah kemarin sore yang menyebutnya overthinking. Jikalau musik diciptakan hanya untuk merangsang indra pendengaran saja, tentunya tidak mungkin.

 

Mari menjawab pertanyaan anak Anarko tadi yang juga mengagumi Nancy Spungen. Sebuah musik diciptakan dengan alunan instrumental dengan nada-nada tertentu yang membuat motorik otak berpikir tema yang dibawakan, biasanya diusung dengan instrumental yang terdengar bahagia maupun sedih. Tentunya anda akan menyadari sebuah musik sedih jikalau pembawaannya rapuh dan dengan tempo yang lambat. Kemudian, unsur vokal digunakan sebagai penjelasan dari keberadaan instrumental. Musik yang berisi vokal biasanya lebih jelas dalam mengungkapkan pesannya, karena lirik adalah pakem dari penggambaran adanya sebuah instrumental musik. Sedangkan apabila hanya instrumental, pendengar bisa menafsirkan sendiri pesan yang dibawakan sesuai dengan keinginan pendengar. Sebelumnya saya sudah membuat tulisan yang berisi "instrumental atau vokal?", karena bagi saya tidak semua orang bisa menyukai keduanya, maka harus diberi pilihan. Eksistensi instrumental membantu otak setiap pendengar untuk mengelola maksud lagu itu sendiri. Otak akan menangkap sebuah memori dari keberadaan instrumental, dan memadukan dengan apa yang anda dibayangkan. Berbeda dengan musik bervokal, yang membuat anda paham apa yang disampaikan melalui lirik. Jikalau saya disuruh untuk memilih, maka jawabannya adalah kondisional atau disesuaikan dengan kebutuhan .

 

Berkali-kali saya mencela orang yang tidak mengerti sebuah esensi dari sebuah produk, seperti musik. Karena musik membawa emosional dari penulis hingga pendengarnya. Seperti salah satu lagu Superman is Dead pada album Hangover of Decade yang membekas di memori saya pada tahun 2015 silam, Disposable lies atau jika diterjemahkan menjadi kebohongan sekali pakai.

 

Penggalan lirik dan terjemahan :

However much you want to show that

Bagaimanapun banyak yang kau ingin tunjukkan.

You keep me inside and what you really care

Kau menjagaku di dalam dan apa yang benar-benar kau pedulikan.

Have a close look deep into your flame

Melihat dari dekat gejolakmu.

Time is running out, nothing to hide away

Waktu hampir habis, tidak ada (waktu) untuk menyembunyikan diri.

I know we’re both all right

Aku tahu kita berdua baik saja.

 

 Picking up the way back to get home

Mengambil jalan kembali untuk pulang ke rumah.

It’s the hardest thing that we think all night

Ini hal yang paling sulit yang kita pikirkan sepanjang malam.

Anything could be the adventure

Apa pun bisa menjadi petualangan.

It’s all growing and beyond the tragedy

Ini semua tumbuh dan di luar tragedi.

 

It’s time to go, start running around

saatnya pergi, mulailah berlari.

Do it faster that I write

Lakukan lebih cepat dari yang ku tulis.

Leave it all behind, all the things we’ve burnt

Meninggalkan semuanya di belakang, semua hal yang telah kita dibakar.

Cruising down the memory

menyusuri ingatan.

Since I don’t know what the last

karena aku tak tahu apa yang terakhir.

Heaven’s got it all

Surga mendapatkan semuanya

 

Lagu tersebut berisi semangat untuk melaju dalam berkehidupan, setelah melalui ingatan masa lalu yang kelam. Sialan, lagu ini tertanam dalam otak saya sehari sebelum sebuah peristiwa menyedihkan terjadi kala itu, seakan membawa pesan jikalau saya tidak bisa terkekang oleh masa lalu. Setelah itu, saya mulai mencari filosofi-filosofi, makna, arti dan keterkaitan lagu dengan kehidupan, tekhususnya saya sendiri. Mungkin kebiasaan ini yang membuat saya membenci orang-orang yang menyukai lagu tanpa mempedulikan maknanya.

 

Dari penggambaran lirik pada lagu tersebut sudah sangat jelas, dan terasa seperti dakwah kyai bagi saya. Banyak musik yang sudah bersarang dalam otak, karena menurut pribadi ini produk tersebut lebih mudah dan cepat terekam esensinya. Beberapa lagu bahkan saya larang sendiri untuk diputar, karena menyayat hati dan membawa duka yang dalam. Jikalau anda orang yang pernah berada di samping saya, maka anda akan menemui saya diam termenung pada beberapa lagu (tapi, tentunya anda tidak peduli tentang ini).

 

Musik bisa membuat pendengarnya ikut bernyanyi, ada yang bersuara dengan luapan emosi atau dengan suara yang lirih. Hal ini mewakili perasaan pendengar itu menyampaikan maksud dari lagu dan hubungan antara keduanya. Semakin keras ia bernyanyi, berarti itulah yang ingin ia tunjukkan kepada dunia dan berlaku sebaliknya. Hal ini bisa dibuktikan secara psikologis tentang orang yang bersuara dengan suara keras dan lantang, maka dia ingin didengarkan.

 

Sungguh merepotkan jikalau hanya untuk mendengar musik saja harus seruwet ini, ya...tapi itu yang saya alami. Sungguh amat berterimakasih untuk musisi yang menciptakan karya-karyanya, mereka adalah pewakil kebebasan berpendapat dan ekspresi dari sebuah jiwa.  Setidaknya dari tulisan ini, anda bisa memahami esensi dari musik dan menghargai semua pihak yang terlibat di dalamnya, termasuk saya.