Minggu, 27 Oktober 2019
Sakura Bukan Khayalan
Sabtu, 26 Oktober 2019
So Fake
Sabtu, 05 Oktober 2019
Egoisme terbakar dalam jiwa (02)
KONSEKUENSI
Bertarunglah layaknya prajurit. Namun Wanda hanya seorang perempuan kecil yang kabur dari rumah. Dia berjalan menyusuri garis pantai pada malam bulan sabit. Kesedihan pertama yang ia dapat pada malam itu. Ia meninggalkan orang tuanya, teman-teman sekolahnya, guru-gurunya. Taka da tempat baginya kini, hanya membawa boneka kelinci pemberian ibunya dan tas kecilnya sambil menangis dan megusapkan airmatanya di boneka itu.
Sehari sebelumnya dia masih melihat teman-temannya bercanda. Wanda adalah anak yang baik dia selalu menjadi ladang sasaran bagi teman-temannya. Wanda yang pertama akan menangis ketika temannya sakit, Wanda yang akan membantu temannya. Dia tidak mempedulikan dirinya sendiri. Kebaikan Wanda tulus dan jujur, tapi dia selalu dimanfaatkan sebagai alas kaki. Sedangkan tidak ada yang menanyakan keadaan Wanda.
Wanda pernah jatuh cinta pada teman kecilnya, Bima. Anak laki-laki yang kuat dan jantan tapi sangat buta akan perasaan Wanda. Bima selalu mengagumkan bagi Wanda walau Bima pergi jauh pun, Wanda akan merindukannya. Tapi malang nasib Wanda, Bima pergi keluar kota untuk mengikuti orang tuanya. Sebelum Bima pergi, Wanda ingin menyatakan perasaannya pada Bima. Tapi Wanda melihat Bima mencium seorang perempuan lain. langkah Wanda pun berhenti, dia mulai berpikir panjang dan bergumam “ah, aku terlalu lama” sambil tertawa tidak menyesalinya. Padahal Bima selalu dibantu oleh Wanda, dan bantuannya itu sangat lebih.
Kini Wanda hanya bisa menangis mengingatnya, dia memegang erat boneka itu. Dan berkata sambil mendongak ke atas “andai aku tidak terlalu lama, andai aku tidak terlalu lama… apa senyummu itu bulan? Kenapa kau bersinar terang? Apa karena aku menangis?” Wanda yang mulai kelelahan menangis, mulai tidur di kolong jembatan sekitar pantai. Sambil meratapi konsekuensi-konsekuensi yang tak pernah ia sesalkan
Hadji Murad
Sebuah resensi buku yang berjudul "Hadji Murad" karya Leo Tolstoy yang terakhir. Sebuah buku yang penuh penyesalan akan pembuatannya oleh sang penulis.
Menceritakan tentang seorang Muslim bernama Hadji Murad yang selalu menjadi bayangan kematian musuhnya. Bahkan ketika dia menyerah pun, darah tetap mengalir dari para musuh.
Buku ini akan membawamu pada masa kelam "Perang Suci" tentang bagaimana dendam adalah cara terbaik untuk memaafkan. Bagaimana pedang adalah cara untuk menulis sejarah. Sebuah penggalan cerita seorang Hadji Murad yang sangat disanjung dan dibenci oleh musuhnya.
Sebuah Sejarah berdarah bercampur romansa indahnya novel.
Rabu, 02 Oktober 2019
Drama Adalah Kebutuhan
Dalam pementasan drama pun dapat membawa emosi tersendiri kepada penontonnya. Ketika pemeran drama berhasil mendapat emosi penontonnya maka alur cerita drama menjadi lebih menarik. Dan ketika drama itu dijelaskan hanyalah sebuah ilusi maka penonton akan merasa lega dikarenakan apa yang dikhawatirkan selama pementasan hanyalah bohong belaka.
Jadi, drama adalah hal yang mengganggu namun dapat membuat kepuasan kepada setiap orang yang melakukan drama
Don't Bother Me, Without Drama